 | Join with Me!!! | Jul 16, 2008 |
To save... Our tremendous biodiversity...Our inheritance...Our nation...
Salah satu site di TNGHS Saat ini, istilah kembali ke alam (back to nature) sudah tidak asing lagi kita dengar di berbagai kampanye media sampai tingkat obrolan sehari-hari masyarakat. Alasan utama tentu karena adanya isu besar global warming yang tengah melanda bumi kita tercinta. Akan tetapi, pada dasarnya, setiap pribadi tentu memang lebih cenderung kepada lingkungan yang bersih, asri, indah, menyejukkan, dan sedap dipandang mata. Karena itulah fitrahnya manusia, suka akan kebaikan. Jadi harusnya, kendati tidak ada masalah global warming, masyarakat selalu lebih cinta akan kondisi lingkungan yang sehat tadi. Untuk menyadari alasan mengapa kita harus cinta terhadap lingkungan yang sehat. Biasanya kami, anak-anak Biologi UI, rutin berkunjung ke tempat-tempat yang kami anggap masih alami, belum tercemari oleh aktivitas manusia yang mendominasi. Lokasi-lokasi yang biasa kami kunjungi salah satunya adalah berbagai kawasan konservasi yang ada di Jawa, seperti Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, Taman Nasional Ujung Kulon, Cagar Alam Telaga Warna, Suaka Marga Satwa Cikepuh, Situ Gunung, dll. Di lokasi-lokasi tersebut kami benar-benar menikmati panorama yang indah serta kedinamisan alam yang luar biasa kompleks. Intinya, kami berusaha membayangkan bagaimana keharmonisan di alam itu bisa terjadi. Eksplorasi Halimun-Salak 2007 Eksplorasi Halimun-Salak 2008 Eksplorasi Halimun-Salak 2009 Terakhir, tanggal 26—29 Januari 2009 lalu, kami berkunjung ke Taman Nasional Gunung Halimun-Salak yang berlokasi di Jawa Barat. Kalau tidak salah, kawasan itu di bawah administrasi tiga kabupaten yaitu, Bogor, Lebak, dan Sukabumi. Untuk mencapai ke sana, kira-kira membutuhkan waktu setengah hari. kemarin, kami berangkat sekitar pukul 7 pagi, dan tiba di lokasi sekitar pukul 15 sore hari. Perjalanan itu kami tempuh dengan 2 kali berganti kendaraan, dari kampus menuju Parung Kuda menggunakan bis, dan dari Parung Kuda menuju lokasi menggunakan Truk barang atau penumpang. Perjalanan dengan bis hanya sekitar 3 jam karena di tempuh dengan jalan tol dan jalan mulus beraspal. Sedangkan, perjalanan dengan truk bisa mencapai 5 jam. Lama perjalanan disebabkan karena jalan menuju kawasan taman nasional tidak semulus sebelumnya. Kawasan Taman Nasional mungkin memang didesain agar tidak terlalu mudah dilalui oleh kendaraan, demi menjaga dari aktivitas manusia yang berlebih. Lama perjalanan di truk tidak menyurutkan semangat kami untuk ke sana, karena perjalanan dengan truk dan kondisi jalan yang berbatu memiliki nilai tersendiri bagi kami. Pada dasarnya mungkin tidak jauh berbeda dengan menaiki berbagai wahana di Dufan. Bedanya, di kiri-kanan jalan terdapat berbagai pohon besar, semak berduri yang menyebabkan sakit atau gatal, jurang, dan aneka tanaman merambat. Sesekali melintas burung elang di atas kepala, semakin menambah cita rasa perjalanan kami. Naik Canopy Trail Curug Macan Bird watching Pengenalan Flora Aktifitas kami sesampainya di sana sangat beragam, mulai dari penelitian kecil-kecilan, menaiki Canopy Trail, Tracking menuju puncak bukit atau air terjun, hingga out bond. Penelitian yang kami lakukan biasanya adalah identifikasi flora dan fauna, melihat hubungan yang terjadi antara mereka, mengetahui manfaat mereka secara ekologi maupun ekonomi, dll. Tentu di sana banyak sekali jenis tumbuhan menarik yang dapat kita temukan seperti kantung semar, berbagai jenis aggrek spesies, rotan endemik, dll. Begitu pula hewannya, sering kami jumpai berbagai jenis primata seperti Owa Jawa, Surili, dan Lutung. Jenis burung di sana pun sangat banyak seperti Elang Jawa yang endemik, Srigunting, Sepah, Cica Daun, Cinenen, Meninting, dan puluhan jenis lainnya. Kegiatan kami ini tidak jarang diikuti oleh kalangan lain, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga yang sudah berumah tangga. Kebermanfaatan kegiatan ini ke depannya akan kami perluas dengan membuka seluas mungkin kesempatan bagi kalangan lain untuk ikut kegiatan kami ini. Dengan cost hanya sekitar 300 ribu (bersih) rupiah per orang untuk 4 hari perjalanan, keindahan panorama alam asri dapat dinikmati bersama. Kegiatan ini tentu akan disesuaikan tidak hanya untuk mahasiswa biologi saja, akan tetapi kalangan lain yang juga tertarik untuk mengetahui dunia biologi lebih jauh. Kegiatan eksplorasi ini kemungkinan besar akan dilaksanakan pada bulan Juli 2009. Oleh karena itu respon, teman-teman sangat dibutuhkan di sini. Informasi resmi mungkin akan diumumkan dalam waktu dekat. TNGHS...Tunggu kami di bulan Juli....  Sepasang itik benjut Musim hujan di Indonesia identik dengan musim kawin untuk hewan. Bukan karena saat dingin, sang hewan butuh kehangatan. Tapi, ini ada kaitannya dengan keberadaan sumber daya pakan bagi keturunan mereka kelak. Secara umum, musim kawin itu jatuh antara bulan Oktober-Maret, saat siang lebih panjang dari pada malam. Mereka (para hewan), pada musim itu akan sibuk mencari pasangan mereka untuk menghasilkan keturunan yang akan mewariskan keberlangsungan hidup jenis mereka di masa depan. Pengecualian itu terjadi pada pasangan yang telah menyepakati MoU akan menjadi pasangan abadi seumur hidup. Pada dunia burung, ada beberapa bentuk pola-pola berpasangan. Salah satunya yang sudah saya sebutkan tadi. Pasangan sejati itu, paling-paling akan mencari pasangan pengganti saat pasangannya telah mati. Bentuk monogami berikutnya adalah monogami "musiman". Maksudnya, jantan-betina akan bersepakan berpasangan, jika salah satunya mampu memenuhi persyaratan yang diberikan oleh yang lain. Contohnya, pada beberapa jenis manyar ( weaver), jantan akan sukses mendapatkan betina jika sarang yang dibuat olehnya disenangi oleh betina. Sifat monogami jenis ini hanya sementara, biasanya hanya selama musim kawin tertentu saja. Musim kawin berikutnya, mereka mungkin sudah mencari pasangan lain untuk masing-masing.  Sepasang burung kacamata Bentuk berikutnya adalah poligami, yaitu jantan dengan betina lebih dari satu. Dalam bentuk ini, biasanya jantan tidak terlalu membantu membesarkan anak setelah persalinan betina. Contoh terdekat bagi kita adalah ayam. Kita tentu sering melihat adegan "pemerkosaan" ayam jantan terhadap betina, di "sembarang" tempat bukan? Demikianlah beberapa tipe berpasangan pada dunia burung, mungkin masih ada bentuk lainnya yang lebih unik. Nah, kira-kira kita paling mirip bentuk yang mana ya? Bentet Kelabu Sering denger kan istilah burung kematian? itu loh burung yang suaranya khas banget kalo kita denger. Gampangnya sih, kalo burung itu bersuara pasti deh dianggap ada orang yang mati. Mitos kali ya? tapi bener juga sih, bukannya emang di dunia ini setiap saat ada aja orang yang mati, mau burung itu berkicau ato ngak?
Well, bukan burung itu sih sebetulnya yang pengen jadi fokus pembicaraan kita kali ini, tapi berkaitan juga lho. Di gambar saya udah nampilin gambar burung dengan perawakan khas, ekor panjang, sedikit berkumis, kepala dan punggung abu-abu dengan garis mata hitam, bagian bawah jingga, dan sayap hitam dengan sedikit bercak (patch) putih pada sayapnya itu, menjadi karakter khas burung ini. burung ini dikenal dikalangan pedagang burung dengan sebutan burung bentet ato lebih lengkapnya lagi bentet kelabu. Nama universalnya adalah Lanius schach, jadi kalo temen-temen nyari burung ini di negara manapun dengan nama tersebut, pasti dapet.
Jadi gini, burung ini sering saya liat bertengger di pagar yang membatasi lapangan hoki di Kampus UI, Depok, tapi sering terlihat bukan berarti jumlahnya banyak lho ya. Karena, yang saya liat itu cuma individu-individu yang sama. Saya mencatat di daerah itu hanya ada sekitar 3 ekor. Dan susah ditemukan di daerah lain di UI.
Oke, sekarang kita bahas kenapa burung itu susah di dapet di daerah lain dan jumlahnya juga gak sebanyak burung gereja yang sudah sangat amat kita kenal. Singkat cerita, salah satu alasannya adalah adanya aktivitas parasitisme yang menjangkiti burung itu. Bukan diparasiti oleh bakteri, jamur, atau jasad renik lain, tetapi diparasiti oleh jenis burung yang lain. Sebut saja dia Cucko. Nah, Cucko ini adalah kelompok burung yang salah satu anggotanya adalah burung kematian tadi. Di UI ada beberapa jenis Cucko di antaranya adalah Wiwik Kelabu (Cacomantis merulinus) dan Wiwik Uncuing (Cacomantis sonneratii). Lalu bagaimana si Cucko itu memarasiti si Bentet? jadi seperti yang sering diputar di National Geographic dan acara sejenis yang lain, kadang dalam sebuah kompetisi ada sejenis burung yang atas pertimbangan efisiensi waktu dan tenaga serta sumber daya lain, meletakkan telurnya di sarang burung jenis lain yang juga sedang bertelur dan mengerami telurnya. Kontras sih sebetulnya, karena telur si induk yang "tidak bertanggungjawab" tadi biasanya jauh lebih besar dari induk korbannya. Akan tetapi, karena sikap parenting yang kuat dari burung korban, dia tetap mengerami semua telur tersebut hingga semuanya menetas. Tidak sampai itu saja, induk korban juga akan tetap mengasuh seluruh telur yang menetas, termasuk telur asing tadi, hingga semuanya dapat mandiri. Kondisi inilah yang terjadi antara Bentet (korban) dan Cucko (parasit).  Wiwik Kelabu Nah di sinilah kompetisinya. saat menetas, anak Cucko yang sudah berukuran lebih besar dari bentet tadi biasanya secara naluri menjatuhkan telur atau anakan dari Bentet, sehingga berkuranglah pesaing si Cucko. Setelah itu, anak Bentet yang tersisa pun bukan berarti sudah aman, dia akan tetap "ditindas" oleh Cucko dalam hal persaingan memperebutkan makanan yang di-supply dari induknya. Badan yang lebih besar tentu membantu Cucko untuk menguasai sebagian besar jatah makanan dari induknya. Yah...kira-kira begitulah ceritanya, hingga mengapa saat ini di Kampus UI, Bentet sudah sulit ditemukan. Informasi ini benar-benar real, karena saya memperolehnya dari pengalaman langsung seorang pegawai Biologi UI, Pak Ana, yang memang hafal betul seluk beluk Kampus, termasuk aktivitas biota-biota di dalamnya. Sebetulnya, saya tidak tahu persis jenis Cucko manakah yang memarasiti si Bentet tadi. Yang pasti kelompok Cucko memang sudah terkenal sebagai jenis parasit yang tidak hanya memarasiti bentet saja, tapi juga jenis burung-burung yang lain. Tapi, itulah mekanis homeostasi yang telah dirancang oleh Yang Maha Pencipta agar tatanan hidup selalu seimbang.
Tak kusangka, tak kuduga, seorang perempuan temen saya (sebut saja Mery) memberi sebuah "kado" menarik dalam genggamannya. Awalnya saya kaget dengan sikapnya yang menyodorkan tangannya begitu saja ke saya. Tapi, beberapa detik kemudian, dari dalam genggamannya tersebut terdengar suara cericitan sesosok benda. Sontak ketika Mery membuka tangannya, saya terkejut dengan seekor anak burung yang nampaknya tidak berdaya. "Kak...ini ada anak burung tadi saya temuin jatoh di depan jurusan kita", kata Mery. Perasaan yang muncul kala itu campur aduk, awalnya senang karena momen seperti ini jarang didapat oleh seorang bird watcher seperti saya, memegang langsung burung liar yang biasanya hanya mampu dilihat oleh mata. Spontan saya bepikir untuk langsung mendokumentasikan momen penting ini, tapi sayang kamera sedang tidak di tangan. Sedih, karena berikutnya tanggung jawab menanti saya, karena Mery mempercayakan pemeliharaan anak burung itu ke saya. Tapi, sebetulnya seneng juga sih, karena pikir saya, saya akan mengasuh burung itu hingga bisa terbang dan kemudian siap dilepaskan ke habitat aslinya kembali.
Akhirnya, saya putuskan membawa burung kecil itu ke kostan saya. kebetulan saya punya sebuah kandang tak berpenghuni yang dulu ditempati kelinci piaraan saya. Satu malam telah dihabiskan burung itu di kostan saya. Tapi, saya sempat berpikir untuk melepasnya kembali. karena saya yakin bahwa inilah bagian dari mekanisme seleksi alam. Di dalamnya, burung kecil itu harus kuat jika ingin bertahan hidup. Mungkin juga, jatuhnya burung itu adalah bagian dari pengontrolan populasi untuk jenisnya. Mungkin dia kalah bersaing, atau mungkin dia memang tengah berjuang untuk bertahan hidup. saya tidak tahu...
Akhirnya dengan kesadaran itu, saya putuskan untuk melepasnya kembali. Apalagi, burung kecil itu gak terlalu kecil-kecil amat untuk dilepas. Tenang saja, dia sudah bisa terbang kok, meskipun belum terbang jauh. Tapi setidaknya dia sudah bisa pindah dari satu pohon ke pohon lain. Hanya saja, mungkin dia harus belajar mencari makan, karena nampaknya instinc-nya belum terlalu teruji untuk itu.
Esok paginya saya melaksakan niat saya, untuk beberapa saat saya tetap pantau pergerakan dia, hingga akhirnya ternyata dia bisa terbang ke dahan pohon yang sulit dijangkau oleh saya. Lega juga akhirnya bisa melepas dia, karena setidaknya dia kini tidak berada dijangkauan orang iseng. Untuk selanjutnya, biarlah dia yang berjuang untuk memperoleh eksistensinya di alam yang mungkin ganas bagi mereka...Usut punya usut, ternyata burung kecil yang sempat beberapa saat berinterkasi dengan saya, adalah immature dari burung dengan nama latin Orthotomus sutorius, atau lebih dikenal dengan nama lokal cinenen pisang.
Selamat berjuang sobat kecil.... Sikep Madu Asia, salah satu Raptor migran yang ditemukan di TN Gn. Halimun-Salak pada bulan Januari 2009, diduga sedang "liburan" di kawasan tersebut.
Di wilayah temperate atau empat musim kita tentu sering mendengar beberapa jenis musim, musim panas, gugur, semi, dan dingin. Keberadaan keempat musim tersebut tentu sangat mempengaruhi pola aktivitas masyarakatnya. berbeda dengan Indonesia, pola aktivitas masyarakatnya antara musim penghujan dan kemarau tidak terlalu nampak berbeda. Anak sekolah tetap bersekolah, Para pegawai kantor tetap bekerja, dan seluruhnya tetap berjalan secara umum. hal itu mungkin karena antara kemarau dan penghujan tidak terlalu mencolok perubahannya. Buktinya kalau kemarau tetap ada hujan, kalau penghujan kadang masih ada panas matahari.
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan yang ada di negara-negara empat musim. Perbedaan yang sangat ekstrim antara keempat musim tersebut, sekali lagi sangat memengaruhi aktivitas mereka. Oleh karena itu, ada istilah liburan musim panas, sekolah musim panas juga kadang-kadang disebut karena biasanya dikhususkan untuk anak-anak yang harus mengulang ketidaklulusan mereka di musim reguler. Mood juga bisa dipengaruhi oleh keempat musim itu, orang-orang mungkin akan nampak lebih bersahabat ketika musim panas daripada musim dingin. Masyarakatnya juga biasanya bekerja keras untuk memenuhi perbekalan menyambut musim dingin, karena biasanya mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Oke, kita memang tidak tahu persis keadaan di sana, kecuali bagi orang-orang yang pernah ke sana. Kita juga mungkin tidak akan secara langsung merasakan dampak dari keempat musim itu bagi kita. Akan tetapi, ternyata ada sekelompok hewan yang jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menyampaikan pesan perubahan musim itu bagi kita. Mereka adalah sekelompok Raptor (burung pemangsa) wilayah temperate yang memang punya kebiasaan bermigrasi ke wilayah yang lebih hangat saat musih dingin tinggi. Suatu berkah bagi Indonesia, karena negara kita menjadi salah satu daerah tujuan "wisata" mereka. Ribuan Raptor kadang kala membuat bercak hitam di langit biru Indonesia. Hal itu menjadi tontonan langka dan menarik. Khususnya bagi masyarakat yang wilayahnya menjadi jalur migrasi. Beberapa kawasan di antaranya adalah kawasan Puncak, Bogor.
Kampus UI juga "ketiban pulung", wilayah ini juga sering kali dilalui oleh sekelompok Raptor yang tengah migrasi, kadang kala UI juga menjadi tempat singgah bagi mereka. Ada 2 kelompok Raptor yang bermigrasi, yaitu Raptor dari selatan dan Raptor dari utara. Biasanya, musim panas dan dingin di kedua daerah tersebut saling berkebalikan. Artinya, kalau di utara sedang musim dingin, di selatan sedang musim panas, begitu pula sebaliknya. sehingga pola migrasi mereka berbeda. Secara umum musim dingin di belahan bumi utara terjadi pada bulan Desember, Januari, dan Februari. Sedangkan, musim dingin di belahan bumi selatan terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus.
Kelompok Raptor akan 2 kali bolak-balik kampus UI. Pertama, saat migrasi pergi (menuju Indonesia). Kedua, saat migrasi balik/pulang (menuju kampung halaman). Untuk Raptor utara, migrasi pergi mereka mungkin terjadi sebelum bulan Desember, dan migrasi baliknya setelah bulan Februari, karena mereka akan menghabiskan 3 bulan (Desember, Januari, dan Februari) untuk "liburan" ke wilayah yang lebih hangat.
So, sebentar lagi momen migrasi balik tiba, saya rindu momen itu....^_^"
Arisaema filiforme Tentu kita tidak asing dengan tumbuhan Anthurium, Caladium, Aglaoenema, Philodendron, dll. Ya, semua jenis tumbuhan tersebut adalah komponen agribisnis. Tumbuhan yang sering dijadikan sebagai tanaman hias tersebut memiliki perawakan yang khas, sehingga banyak dijadikan perhiasan taman di rumah. Perawakan mereka secara umum sama, sehingga mereka dikelompokan ke dalam suku talas-talasan atau Araceae. Araceae memiliki daun lengkap, artinya daunnya memiliki tangkai, helaian, dan upih daun sekaligus. Kebanyakan daun pada tanaman tidak lengkap. Misalnya, daun yang hanya memiliki helaian dan tangkai saja, seperti pada daun mangga, rambutan, durian, apel, sawo, jeruk, dll. Akan tetapi, tumbuhan dengan daun lengkap tidak hanya dimiliki oleh Araceae saja. Banyak tumbuhan lain yang juga berdaun lengkap seperti pisang-pisangan (Musaceae), palem-paleman (Arecaceae) dan jahe-jahean (Zingiberaceae). Araceae dibedakan dari kelompok tumbuhan lain berdasarkan perbungaannya. Disebut perbungaan karena memang Araceae memiliki tipe bunga majemuk, artinya Araceae memiliki banyak bunga yang ditunjang oleh ibu tangkai bunga. Tipe perbungaan Araceae adalah tongkol (spadix), yaitu perbungaan dengan ibu tangkai yang tebal berdaging. Tongkol tersebut kemudian dilindungi oleh daun pelindung yang disebut spatha. Keberadaan tongkol dengan spatha itulah yang mencirikan kelompok famili ini. Spatha pada Araceae dapat bervariasi dari segi ukuran, bentuk, dan warna. oleh karena itulah, banyak Araceae yang dijadikan tanaman hias karena spatha-nya. Misalnya banyak jenis Anthurium bunga.  Arisaema sp. Salah satu jenis Araceae menarik yang hidup di hutan tropis Jawa adalah Kiacung (Arisaema sp.). Araceae dari genus ini dapat dibedakan dengan mudah dari talas-talasan lainnya karena spatha-nya menyerupai sebuah kantung yang memiliki tutup. Arisaema menghuni lantai hutan hujan yang selalu lembab. Dalam perjalanan kami di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (27-28/2/09), Arisaema ditemukan di jalur pengamatan yang dilalui manusia. Di daerah yang tidak terlalu tertutup dan masih terkena sinar matahari. Suatu jackpot jika dalam pengamatan kami berhasil menemukan mereka. Setidaknya, ada 2 jenis Araceae yang dapat dijumpai di sana. So, kita harus memperhatikan setiap langkah demi langkah agar tidak luput dari mereka. Selamat mencari!!!  | LIPI | Feb 9, '09 5:43 AM for everyone |
Tim Canopy di Puncak Andam
Banyak sekali hal-hal baru yang terjadi pada Pelantikan Anggota Baru OMPT (Organisasi Mahasiswa Pecinta Tumbuhan) Canopy UI tahun ini (2009). Khususnya terjadi pada hari ketiga. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini kami tidak melakukan tracking ke Curug Cikidapaeh, melainkan menuju puncak Bukit Andam. Keputusan ini ditetapkan setelah kami mendapatkan informasi dari beberapa orang yang pernah ke sana bahwa pada puncak tersebut terdapat tumbuhan Kantung Semar. Tumbuhan yang selama kami ke Halimun belum pernah kami jumpai. Malam hari sebelum berangkat, kami berdiskusi tentang gambaran lokasi di sana dan bagaimana kira-kira kesulitan perjalanan menuju ke sana. Pemandu setempat menggambarkan bahwa perjalanan ke sana tidak sesulit perjalanan menuju Curug Cikudapaeh, akan tetapi memang agak sedikit lebih curam. Dengan kata lain banyak tanjakannya. Dalam benak kami, sepertinya perjalanan kami akan lebih mudah dari perjalanan kami tahun-tahun sebelumnya menuju Curug Cikudapaeh.
Pagi harinya (28/2), kami berkumpul di lapangan Citalahab setelah seluruh perbekalan termasuk makan siang telah kami siapkan. Karena kami memang berencana akan makan siang di tengah lapangan kecil yang dikabarkan terdapat di puncak Andam. Perjalan pun dimulai sekitar pukul 8 pagi. Mula-mula perjalanan biasa-biasa saja, karena sekitar ¼ jalur perjalanannya adalah jalur yang sering kami lalui. Setelah memasuki jalur baru, kesulitan lama kelamaan semakin meningkat. Informasi tadi malam memang benar, jalur menuju puncak Andam memang terjal, bahkan mungkin jauh lebih terjal dari jalur Cikudapaeh. Lokasi-lokasi datar untuk beristirahat pun jarang ditemui, seolah-olah jalan terus menanjak. Tapi tentu hal itu tidak terlalu terasa bagi kami, karena perhatian kami justru lebih terarah kepada tumbuhan-tumbuhan yang ada di kiri-kanan jalur. Sehingga, kami merasa tidak terlalu lelah. Nepenthes gymnamphora
Dalam perjalanan banyak jenis tumbuhan menarik yang kami temui, seperti anggrek tanah Nephelaphyllum, Kiacung (Arisaema) yang penampakannya menyerupai sebuah gelas piala bertutup, dan Begonia yang tangkai daunnya dapat dimakan dan rasanya seperti belimbing sayur. Kami juga sempat menjumpai beberapa jenis hewan, seperti Pelatuk Merah, dan beberapa suara burung yang salah satunya adalah suara Burung Luntur Harimau, berdasarkan informasi dari pemandu lokal.
Paku Andam
Hampir tengah siang, nampaknya sebentar lagi kita akan sampai di lokasi tujuan. Komposisi vegetasi mulai berubah, yang tadinya di tempat yang lebih rendah vegetasinya beragam, kini semakin tinggi semakin homogen. Kami disambut dengan sehamparan luas tumbuhan paku-pakuan, yang ternyata nama Andam itu berasal dari nama lokal tumbuhan paku yang menghampar tersebut. Artinya, kami sudah sampai di lokasi tujuan kami. benar saja, di sana terdapat cukup ruang bagi kami, yang berjumlah sekitar 60 orang, untuk beristirahat dan menikmati makan siang kami. Istirahat dan makan siang kami terasa semakin nikmat, karena ternyata tidak jauh dari sana terdapat beberapa individu Kantung Semar (Nepenthes gymnamphora) yang menjadi target perjalanan kami. Kantung Semar itu berada di antara hamparan Andam yang luas. Perjalanan kami pun disudahi dengan mendokumentasikan momen berharga dan tak terlupakan ini. Tidak lupa kami pun memoto Kantung Semar yang sangat jarang kami temui itu. Kalau kita berkunjung ke pedalaman hutan di wilayah Jawa, tak asing kita pasti menemukan sekumpulan bunga dengan perhiasan bunga berwarna putih berserakan di lantai hutan. Bunga-bunga tersebut seolah menambah semarak suasana lantai hutan yang hiruk pikuk ditumbuhi aneka herba dan perdu. Bunga yang secara penampakan menyerupai bunga teh itu, berasal dari sebuah pohon besar di hutan yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Puspa. Pohon dengan nama latin Schima wallichii ini merupakan vegetasi penting penyusun hutan hujan tropis Jawa. Penampakan bunga Puspa yang menyerupai bunga teh tadi, menyebabkan keduanya dimasukkan ke dalam Famili yang sama, yaitu Theaceae. Nama Puspa semakin diabadikan dengan nama seorang gadis yang sering disebut-sebut oleh Grup Musik ST12. Meskipun kita tidak tahu apakah sang pembuat lagu atau seseorang yang memiliki nama tersebut mengetahui atau tidak arti dari namanya. Puspa istimewa, karena setelah tumbuhan ini dibuahi polinator, dia akan menjatuhkan perhiasan bunganya itu, sehingga memenuhi lantai hutan. Tracking kami baik di Bodogol maupun di Halimun tidak pernah sepi darinya. Kenangan masa kanak-kanak kita pasti tidak pernah terlupakan dengan berbagai permainan kecil yang menyenangkan. Salah satunya yang pernah saya pribadi lakukan adalah berburu sarang burung Pipit. Perburuan itu lebih dikhususkan pada anak burung yang baru menetas dan belum bisa terbang. Harapannya adalah, kami bisa memeliharanya hingga besar dan menjadi burung yang penurut. Perburuan biasanya kami lakukan di kawasan perumahan elit yang dijaga keasriannya. Dulu, burung Pipit itu sering bersarang di pohon-pohon cemara di pinggir jalan utama. letak sarangnya tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah, tetapi pohon yang mereka pilih biasanya yang sangat lebat naungannya. Sehingga untuk mendapatkannya, kami harus menerobos masuk ke dalamnya. Itu kisah dulu, sebelum saya mengetahui seluk beluk burung itu. Ternyata, saya baru tahu bahwa burung Pipit, atau yang juga biasa disebut Bondol, itu tidak hanya 1 jenis. Paling tidak selama ini saya sudah pernah menjumpai 3 jenis Bondol, Bondol Peking, Bondol Haji, dan Bondol Jawa. Nama terakhir adalah jenis endemik Jawa. Bondol dimasukkan ke dalam Genus Lonchura dengan spesifikasi pemakan biji. Makanya, kita sangat mudah menemukan kelompok burung ini di pesawahan.  Akan tetapi saat ini, di perkotaan yang paling mungkin kita temukan adalah Bondol Peking. Untuk Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides), saat ini sulit ditemukan di lingkungan sekitar kita. Mereka terancam karena habitat mereka menyusut. Bisa jadi karena Bondol Jawa lebih tidak toleran daripada Bondol Peking. Foto di atas saya dapatkan di Kawasan Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, pertengahan bulan Januari lalu.
Dalam tingkat trofik ekologi, Raptor (sebutan untuk burung-burung pemangsa) biasanya menempati urutan paling atas. dengan kata lain mereka adalah kelompok burung dengan kasta tertinggi. Wajar, karena burung apa kiranya yang mau menggangu mereka? Mengganggu burung dengan ukuran besar, paruh kokoh dan kaki yang dilengkapi dengan cakar yang tajam. Tapi tidak disangka, ternyata ada burung yang berukuran lebih kecil namun berani melawan superioritas para raptor. Salah satunya adalah Srigunting. Srigunting terdiri dari banyak jenis, yang semuanya rata-rata memiliki kebiasan untuk "mengganggu" Raptor. Srigunting yang terekam dalam foto adalah jenis Srigunting Kelabu (Dicrurus leucophaeus). Kebiasaan mereka bukan tanpa sebab, biasanya mereka berusaha "mengganggu" Raptor yang kebetulan melewati daerah kekuasaan Srigunting. Tindakan ini mungkin sebagai sikap antipredator atau mempertahankan teritori. Tidak seperti raptor yang umumnya memakan daging, Srigunting adalah pemangsa serangga. Cara berburu mereka sangat unik. Mereka bertengger di dahan pohon tertinggi sehingga mereka dapat mengamati dengan baik daerah sekitarnya. dari tempat itu mereka kemudian mengejar serangga yang sedang terbang di udara. Tak jarang pengejaran tersebut dilakukan dengan gerakan akrobatik. Srigunting kemudian kembali ke tempat tenggeran semula setelah mangsa berhasil didapat. Jika anda ingin menjumpai burung ini, anda dapat berkunjung ke berbagai Taman Nasional yang ada di Pulau Jawa. Foto Srigunting dalam artikel ini didapat saat saya dan beberapa anak Comata Biologi UI melakukan Bird Watching pada tanggal 16-18 Januari 2009 di Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Lokasi tersebut dapat dicapai melalu Lido, Sukabumi. Cukup dekat, dari kampus (Depok), perjalanan dapat mencapai 3 jam. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 30 menit menuju Basecamp.  | Guestbook | |
 |
d3den wrote on Nov 11, '11 Permisi.. Tanpa modal 1 Rupiah pun, hanya daftar klik iklan biarkan tayang 30 detik lalu promosikan link secara online untuk mendapatkan downline, dalam 12 minggu anda dapat tabungan $60,361.1 Siapapun juga bisa, klik link di bawah ini lalu ikuti petunjuk di bawahnya lagi : http://fellowequality.com/pages/index.php?refid=dedenwardhanadan ikuti petunjuk di bawah ini : - Anda akan masuk ke web yang anda klik. - Pilih menu SIGN UP dan masukan email anda (email yang valid) dan klik continue. - Setelah beberapa saat..cek email anda dan klik link (URL)nya untuk memulai registrasi. - Anda mengisi data yang benar yang akan di pakai untuk payout (pembayaran) - Untuk Payment method, pilih WESTERN UNION (jasa transfer yang ga ribet dan ga perlu punya account). isi payment ID dengan nama anda sesuai KTP/ID card. - Usahakan luangkan waktu untuk cek accoun anda tiap hari, karena selalu ada iklan yang perlu anda klik(PTc),Paid To Click, juga di inboxnya 3 hari sekali ada iklan yang harus anda klik, karena di inbox PTcnya lumayan gede lho. - Semakin anda rajin maka Earning (pendapatan) anda akan semakin cepat terkumpul, apabila sudah memenuhi syarat USD$68,000, anda bisa melakukan request untuk payoutnya. - Setelah earning anda mencukupi, anda request untuk payoutnya dengan mengklik Redemtion maka akan terbuka 4 kategory yang akan di redemp. karena keanggotaan anda gratis..pilih yang free member. - Tunggu balesannya di email anda yang akan berisi : - Nama yang berhak menerima - Kode MTCN (Money Transfer Controll Number) - Kalau sudah dapat di point 10, Anda print deh, lalu bawa deh ke bank yang ada layanan Western Unionnya - Pihak bank akan mengkonfirmasikan keabsahan data anda (makanya saat registrasi gunakan data sesuai KTP anda) - Sudah...anda menjadi jutawan sekarang...gampang kan....asal mau coba aja sekarang, tapi jangan lupa sedekahnya buat yang berhak. - Kirimkam juga pesen ini ke temen-temen anda..karena semakin banyak temen-temen anda bergabung semakin cepat uang anda terkumpul Selamat mencoba, dan jangan kaget kalau 4 bulan kedepan anda mendapatkan Rp.680.000.000, - tanpa modal 1 rupiahpun. Ingin lebih cepat tercapai USD $ 68,000 jangan sendiri, setelah mendaftarkan diri anda promosikan link keanggotaan anda untuk mendapatkan downline. Caranya : -login ke halaman free member anda masing-masing -Klik halaman Refferal Center -Copy link seperti link saya di atas yg terdapat dalam kotak url -Pastekan link anda tersebut di tempat yg anda inginkan dalam email promosi anda dengan cara mengklik Insert Hyperlink (icon globe ada rantai di depannya di sebelah icon insert Emotion ) pastekan link anda di sana. -Sending ke semua alamat yg ada di address book anda, atau Yahoogroups. Hanya 12 minggu sudah $60,361.1000 kira-kira 1 minggu lagi (3 bulan) mudah-mudahan USD $68,000 tercapai, bandingkan dengan pasang togel bertahun-tahun tidak dapat-dapat. Regards |
 | salam kenal dr zafn ya :) |
 | aslm. salam ukhuwah, thx for inviting me |
 | Salam kenal juga. Iya, saya suka fotografi sebagai hobi saja. Biologi UI ya? Hmmm... angkatan berapa mas? Sering ke Pulau seribu? Saya dulu sering ke Pulau seribu karena jurusan saya kelautan di IPB. Kalau ga salah pulau rambut ya yang sering didatangi pecinta burung untung pengamatan. Lensa saya kurang cepat untuk "menangkap" burung. Tapi insya Allah kalau ada waktu mah... ayo saja kita hunting. |
 | assalaamu'alaykum.. wah, ahli burung rupanya. hehehe.. terima kasih atas silaturrahminya. jazaakalloohu khoyron. :) |
 | Ni blogna Dimar yah?? Add blog Futi jg donk Dimar,di foethie.multiply.com Okey!! |
 | aslm...ni bang dimar ya??? |
 | Salam kenal mas,ya okelah mas dimar klo pas saya maen ke jakarta,,,kemaren juga saya n tmen2 bionic habis maen ke bandung ikut bird race.... |
 | wah,,beneran ada yang udah budidaya kelinci nih.. numpang mampir.. numpang naro jejak kelinci.. siapa tau aja kelinci ini bisa terkenal.. ^ ^ |
 | Ramadhan tahun ini yang kulalui entah mengapa biasa saja, apakah karena dosa ini terlalu menutupi diri sehingga ibadahpun tak mampu menghapusnya, apalagi tanpa dengan maaf mu teman, mungkin ramadhan ini makin hambar dan dosa ini makin menebal, Taqaballahu minna wa minkum.. Zul dan Sekeluarga mengucapkan " Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin"..
Zulfikri Arzi, Geografi 06 |
 | sama2.. smoga kesempurnaan ramadhan terhadiahkan untuk qt smw.. amin.. |
 | Ramadhan kian dekat..mari setting NIAT, upgrade IMAN, download SABAR, delete DOSA, approve MAAF dan browsing PAHALA, agar kita masuk guest booknya SURGA. MET MENJALANKAN BADAH PUASA 1429 H!!! |
 |
hsn05 wrote on Aug 31, '08 sama" mar... maafin gw juga kalo ada salah ma lo... Hv a great ramadhan hope Allah gives us blessing and happiness in this month... met puasa... semangat!!! |
 | sama-sama mar.. memaafkan seorang iRa jg tak mudah pastinya.. so,,maaf lahir batin ya... happy Ramadhan...^^ moga qta smw bs meraih cum-laude..amin.. semangad!! |
 | ok len... btw sapa dulu nih yang minta maaf? ntar tubrukan lagi...hehehe...
|
 | Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh Jika hati seputih awan, jangan biarkan ia mendung Jika hati seindah bulan, hiasi ia dengan Iman di bulan Ramadhan
mohon maaf lahir & batin ya dim........ |
 | Pekerjaan yang utama adalah meminta maaf ketika salah...
Tetapi...yang jauh lebih utama adalah memberi maaf orang yang salah sebelum diminta...karena itu pasti sulit...
Apalagi...memaafkan kesalahan seseorang yang bernama "Dimar", itu juga tidak mudah...
Tapi saya yakin semua pasti adalah orang-orang yang utama karena ingin melakukan hal yang paling utama...
Maafkan saya ya...semoga kita terlebih dahulu meyucikan hati kita sebelum kedatangan Ramadhan yang suci... |
 | assalamualaikum wr wb.. salam kenal ya.. |
 | salam kenal....thanks sudah berkunjung ke sarang kami di jogja...hehehe kalo ke jogja dan ingin ikutan BW, bisa hub kami. sapa tau ada yang lagi sakau ngamatin burung... |
 | maksud akunya itu dirimu dhil... jadi dikaulah yang jadi subjek ditulisan tersebut... |
 | thx ya..! wlaupun aga bingung bacanya cz ada kata "aku" tp, gw tetep ngerti maksudnya..
|
 | ok deh hidup anak biologi sejati... saya ikut mengamini ya... amin... |
 | oh tnyata sedang di warnet toh... tulisan? bs gak yah?
|
 | belum up date lagi... terakhir ja bulan kemaren bis add blog, idenya si numpuk tapi, "mulai ngetiknya" masih ntar2an trus, mana nih tulisan nt dim.. |
| |